MOST RECENT

Tarhib Ramadhan kerjasama LKSM RUHAMA, KPTS, dan KKS


08.02 | Posted in | Read More »

Kedermawanan


Sifat dermawan adalah salah satu bentuk kebajikan dari orang yang beriman. Sedangkan tamak dan kikir adalah sifat orang kafir. Dua sisi ini dapat dibedakan dari keimanan yang ada, orang yang beriman yakin bahwa rizki itu datangnya dari Allah swt semata, dan Dialah yang menjaminnya, adapun orang kafir akan  dirundung ketakutan terhadap kefakiran yang selalu menjadi bayang-bayang hitam bagi kehidupannya, karena dia berburuk sangka pada Allah. Melihat kehidupan ini dengan pandangan materi belaka.
Hanya menuruti nafsu syaitan belaka, mendewakan akal sebagai pondasi segala-galanya, jauh dari cerminan cahaya ilahi, Al-Quran dan Al-hadis. Sehingga yang akan timbul hanya kerusakan, kerugian dan malapetaka bagi keberlangsungan umat manusia dan ketentraman jiwa.
Mereka yang menganut faham  materialisme menganggap bahwa harta atau kekayaan  datang karena  semata usaha manusia, padahal harta  tidak akan datang dengan sendirinya dan tidak mudah pula mendapatkannya kecuali dengan izin dan taufik  Allah swt.  Manusia hanya berusaha, berbuat dan berdoa, hasil dari usaha itu Allah lah yang mengaturnya.
Apa daya manusia yang lemah ini dalam memikul ribuan kewajiban kalau semuanya tidak disandarkan kepada Sang Pencipta. Bagai seorang penumpang kapal laut yang enggan meletakkan semua bebannya di ruangan kapal, tapi dengan sombong mengangkat semua beban itu sampai pada tujuan, padahal orang yang berakal cukup dengan meletakkan semua bebannya dikapal, dan percaya bahwa kapal tersebut di nahkodahi oleh seorang ahli dalam hal itu, sehingga tidak khawatir lagi, bahkan kepercayaan akan timbul dalam diri seseorang.
Berbeda dengan mereka yang hanya mengandalkan kesombongannya, tidak berharap bantuan sama sekali kepada sang nahkoda, sehingga hanya rasa lelah dan dongkol akan muncul dalam setiap perjalanannya.
Begitulah arti dari sebuah harta dan kekayaan bagi manusia, tidak seorangpun yang dapat berargumentasi dan dengan seyakin-yakinnya kalau hanya kemampuan dirilah satu-satunya yang dapat melangkahkan dan mensukseskan semua keinginannya, apakah kita lalai dari manakah semua kenikmatan yang kita dapat?
 Dari manakah anggota tubuh ini, kesehatan, akal, ketampanan, adanya indra pendengaran, pengecap rasa? Timbulnya rasa sakit jika ada bahaya mengena anggota tubuh kita, dan masih banyak lagi kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita.
Dengan begitu kedermawanan yang timbul dalam diri manusia adalah bentuk rasa peduli kepada sesamanya, yakin bahwa sesamanyapun ada hak dalam diri hartanya, karena betapa rugi seseorang kalau dirinya berjaya sementara tidak ada manfaat yang diberikan bagi masyarakatnya.
Apalah arti harta seorang bernama ”Qorun” kalau hanya untuk memperkaya diri sendiri, yang pada akhirnya semua kekayaannya itu ditelan bumi dan hanya kemurkaan Allahlah yang tinggal baginya karena kesombongannya.
Orang beriman yakin bahwa harta yang didermakannya tidak akan habis, bahkan akan menjadi berkah dan  bertambah, sebagaimana janji Allah dalam al-Quran surat Saba ayat 39,  “Dan apapun yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantikannya.”
Ini adalah sebuah rumusan khusus bagi kaum muslimin. Agar mereka percaya ketika menafkahkan hartanya dijalan Allah, maka Allah akan menggantikannya, bisa didunia ataupun di akhirat. 
Mereka yang mendermakan harta karena Allah, karena ingin benar-benar berharap kajayaaan Islam tercapai,    mereka adalah orang-orang yang mulia disisi Allah, keberkahan dalam kehidupannya adalah sebagai bukti bahwa janji Allah itu benar.
Anak-anak mereka bermoral sholeh, kehidupan yang serba cukup, kehidupan rumah tangga yang harmonis, dan lain sebagainya.
Kalau kita melihat bangsa yang besar ini, Indonesia.  Betapa kaum muslimin di sini terbesar di dunia, bahkan untuk ukuran orang terkaya Indonesia terbanyak di Asia, menempati urutan ke tiga setelah Singapura dan India.
Tapi kemanakah mereka dalam membantu saudara-saudaranya yang masih terpenjara dalam kemiskinan? Bermilyar bahkan trilyunan mereka hasilkan, tapi kadangkala manusia lupa pada dirinya, siapakah dirinya sebelum menjadi orang sukses? Sebagaian mereka dalam mencapai kesuksesannya penuh dengan keringat perjuangan, tapi kadangkala manusia lupa tatkala kesuksesan itu terwujud, menganggap bahwa kesuksesan adalah hasil usahanya semata. Tak punya peduli dengan sesama. Padahal kearogansiannya hanya akan menjadi bom waktu yang suatu saat akan membahayakan bagi diri mereka.
 Kejayaan masa orde baru telah tumbang dengan sendirinya, keegoismean para pemimpin di waktu itu memunculkan kebencian yang mendalam bagi bangsa Indoneisia, kekikiran para pejabat bahkan korupsi yang merajalela telah menghancurkan Indonesia yang tercinta ini.
Maka tolak utama keberhasilan umat ini berpusat dari kedermawanan setiap bangsa pada umumnya, dan pemerintah pada khususnya, hal ini bisa dilihat dengan berkembangnya ekonomi bangsa. Kemajuan dalam semua aspek kebangsaanpun akan terealisasikan, tapi tidaklah cukup dengan kemajuan ekonomi saja dan kedermawan pemerintah saja dalam rangka memajukan bangsa, tapi nilai agamis dan moral bangsalah yang membuat kedermawanan itu mengandung sebuah arti. Apalah arti derma jika disertai dengan nuansa dam tujuan duniawi  yang sebenarnya hanya merugikan bangsa ini.
Terakhir, apapun  kemampuan yang kita miliki, pikiran, harta, tenaga dan sumbangsih lainnya kita dermakan demi memajukan Indonesia menuju bangsa yang diridhoi Allah swt.
Dan di masisir adalah sebuang bangsa  yang menjadi sarana buat kita  melatih itu semua.

03.41 | Posted in | Read More »

Rasulullah Juga Manusia

Rasulullah juga manusia, seperti kita. Sangat manusia. Di juga makan seperti kita makan. Dia juga sakit seperti kita sakit. Dia terluka sebagaimana kita terluka. Darahnya muncrat sebab tertimpa busur dalam pertempuran. Ia juga menangis, ia tertawa dan semua kegiatan manusia lainnya.
Ia punya keinginan dan syahwat seperti kita maka dia pun menikah. Dia punya cinta sebagaiaman kita maka dia senang memiliki anak. Dia butuh harta sebagaimana kita maka di pun berdagang untuk menutupi kebutuhan keluarganya. Ia tertimpa demam yang tinggi. Bahkan ia meninggal.
Lalu apa yang membuatnya begitu mulia? Mengapa ia dijunjung tinggi setinggi-tingginya? Mengapa namanya harus disebutkan dalam salat? Bahkan tidak sah salat seseorang tanpa menyebut namanya. Ada apa dibalik semua ini? Apa rahasia sehingga kedudukan dan derajat tinggi ini ia peroleh?
Jawabnya adalah sebab ia orang paling besar manfaatnya. Ia orang yang paling besar jasanya. Ia yang paling banyak kebaikannya. Paling tinggi pedulinya.
Bukan karena kekayaan yang membuat ia mulia. Ia memang kaya tapi bukan sebab harta itu ia agung. Ia juga keturunan bangsawan tapi bukan sebab itu ia dihormati. Ia  penguasa Arab tapi bukan sebab itu ia diagungkan.
Ia menjadi mulia dan menjadi sangat terhormat sebab mampu menjadikan apa yang ia miliki sebagai sarana untuk berbuat baik tak pernah henti. Ia berkorban tak pernah lelah. Ia memberi  tak pernah putus.
Kebangsawananya tidak serta merta membuatnya sombong dan menjauh dari manusia. Ia tidak gengsi untuk membantu Bilal, budak hitam legam yang berbibir memble.  Kekayaannya tidak menjadikanya berat untuk turun tangan membantu yang kesulitan. Ia tidak malu memerah susu untuk orang-orang sulit.
 Kekuasaannya tidak membatasinya untuk menerima semua manusia yang datang padanya. Tak ada prosedur yang berbelit-belit untuk menemuinya. Ia tidak mengurung dirinya dalam istana bermandikan kesenangan. Tapi ia hadir selalu di tengah-tengah rakyatnya. Minimal lima kali sehari ia bertemu dengan masyarakatnya di masjid. ia tanyakan kondisinya, ia cari yang tidak hadir, ada apa dengannya? Sakitkah ia? Ia pun yang paling pertama menjenguk saudaranya yang tertimpa musibah itu.
Sewaktu seorang sahabat menanyainya, siapakan orang yang paling dicintai Allah? Rasulullah yang paling dicintai Allah tidak mejawab bahwa dirinyalah yang paling dicintai.
Bukan itu jawabannya sebab ia bukan sombong atau selalu merasa hebat. Bukan itu, sebab ia tidak mau menutup jalan bagi orang lain untuk menjadi yang paling dicintai Allah. Ia pun menjawab ahabbu annasi ila Allahi anfauhum linnas, yang paling dicinta Allah adalah yang paling besar manfaatnya pada sesama. Dari jawaban ini belaiu ingin mengajarkan bahwa siapa pun yang mampu menjadi paling bermanfaat maka dialah yang paling mulia. Dan sangat jelas bahwa Rasulullah yang paling besar manfaatnya.
Bermanfaatlah, manfaat yang sebesar-besarnya, sebanyak-banyaknya. Jangan sebab Rasulullah Beribadah yang banyak hingga pecah-pecah kakinya lalu kamu hanya ingin seperti itu. Jangan, sekali-kali jangan. Sebab ia pernah berkata, “membantu mengurus kebutuhan saudaraku adalah lebih baik dari pada  tinggal di masjid beri’tkaf sebulan  salat dan berpuasa.”
Jangan karena Rasulullah menyuruhmu menuntut ilmu hingga yang ada dipikiranmu hanyalah ilmu dan ilmu. Sebab diwaktu lain beliau mengatakan, “Allah punya hamba yang kerjanya membantu orang lain, semua manusia datang untuk meminta bantuannya. Mereka itulah yang akan selamat dari siksa Allah.”
Jika Ilmu hanya utuk menjadi kenikmatan bagimu saja tanpa dirasakan manfaatnya oleh saudaramu maka apa gunanya ilmu itu. Buat apa ia dikejar-kejar kalau hanya untuk menjadi bahan pembicaraan dan selesai dalam diskusi serta kajian kering tanpa makna. Buat apa ia diburu-buru jika hanya untuk prestasi. Prestasi yang membuat orang berdecak kagum dan membuatmu sulit untuk membantu orang lain sebab kamu malu prestasimu hilang.
Jangan karena Rasulullah mememerintahkanmu belajar maka yang ada dalam gelisahmu adalah belajar tanpa henti. Tidak. Sama sekali tidak. Islam bukan ajaran yang berat sebelah. Ia menyuruhmu belajar dan pada saat yang sama ia menyuruhmu perhatian pada masalah masyarakatmu.
Ia menyuruhmu beribadah dan pada waktu yang sama kamu harus membantu orang lain. Dan sekali lagi kita harus selalu camkan hadis Rasululah yang sangat menakutkan. “Barang siapa yang tidak peduli dengan permaslahan saudranya, ia bukan umatku.”
Dan kita belajar, kita berilmu, kita beramal sosial adalah jawaban semua ini.

03.39 | Posted in | Read More »

Karena Aku Muslimah


Kekasih hati Rosulullah, keimananya tak perlu ditanya. Kemuliannya adalah keluasan ilmu yang dimilikinya. Identitasnya sebagai seorang wanita tidak pernah menghalanginya untuk menebar samudera ilmu yang ia miliki, hingga darinya terlahir ulama' dan fuqoha. Ialah wanita agung sepanjang zaman, Al Khumairah 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
Kisah indah dan mengesankan dalam medan pertempuran Uhud menggambarkan betapa Allah ta'ala telah menganugerahkan banyak kemuliaan kepadanya, ialah Nusaibah bintu ka'ab atau biasa dipanggil ummu ‘Imarah. Ummu ‘Imarah radhiallahu ‘anha ikut berperan dalam kancah itu bersama suaminya, Ghaziyah bin ‘Amr serta kedua putranya, ‘Abdullah dan Habib radhiallahu ‘anhum.
Dengan membawa geriba tempat air minum untuk memberi minum pasukan yang terluka, Ummu ‘Imarah berangkat bersama pasukan kaum muslimin di awal siang.
Pertempuran berlangsung dahsyat. Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai, tak tersisa di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali hanya beberapa orang yang tak sampai sepuluh orang banyaknya.
Di saat yang genting itu, Ummu ‘Imarah terjun langsung dalam peperangan dengan pedangnya. Bersama suami dan dua putranya, Ummu ‘Imarah mendekati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melindungi di depan beliau dengan segenap kemampuan.
Tanpa perisai Ummu ‘Imarah melindungi Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kepekaan yang tinggi saat ada saudara seiman yang membutuhkan.., memberikan apa yang ia punya , walaupun ia dan keluarganya sangat membutuhkan, mendidik putra-putranya menjadi pribadi yang zuhud,qanaah dan tegar.
Tatkala datang seseorang meminta makanan kepadanya, sedang ia dan keluarganya sudah berpuasa selama tiga hari, tanpa berfikir panjang ia berikan simpanan makanan untuk berbuka  kepada saudaranya yang meminta. Ia berkata,"Bagaimana aku  bisa makan, sedangkan ada saudaraku yang lebih membutuhkan"
Itulah istana keluarga kecil Fathimah putri kesayangan Rasulullah. Dengan segala keterbatasan, ia masih mampu menabur benih kebaikan.
“Dinda akan selalu menemani kakanda, dinda tidak hanya akan menemani kakanda ketika berkecukupan kemudian meninggalkan kakanda dalam kesusahan...”
Petikan kalimat yang diucapkan Fathimah binti Abdul Malik, istri khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika beliau menawarkan kepadanya agar  kembali kepada ayahnya.
Fathimah rela meninggalkan segala kemewahan dan hidup dalam kesederhanaan. Konsekwensi yang ia ambil dengan penuh keikhlasan tatkala suaminya mendapat amanah kepemimpinan dan berkeinginan merubah gaya hidupnya..
Akal, fikiran dan hatinya telah telah berubah karena kesadarannya akan pengawasan Allah SWT.
Sungguh kisah-kisah perjuangan yang indah..
Idealnya, dalam kondisi apapun seorang muslimah di tuntut untuk selalu berderma. Mendermakan apa saja yang ia punya, harta, ilmu, waktu, fikiran dan tenaga.
Tidak perlu menunggu menjadi kaya dan mempunyai harta yang melimpah untuk menjadi demawan. Karena modal utama dalam berderma adalah kemauan yang tinggi untuk melakukannya.
Sungguh..inilah transaksi yang menjanjikan keuntungan berlipat-lipat. Rosulullah saw telah menjamin bagi seseorang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah dengan pahala 700 kali lipat.
Merenungi kisah wanita-wanita mulia ini, membuat penulis merasa sangat jauh dari sempurna.  Mereka adalah generasi muslimah idaman zaman yang kehadirannya selalu dinanti.
Mereka lebih mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri walaupun mereka memerlukan. Kesederhanaan tidak membuat mereka hina di mata manusia, bahkan mereka itulah pemilik kemuliaan sejati di mata Allah SWT.
Impian setiap muslimah adalah menjadi wanita sholehah di dunia, yang menyadari peran pentingnya dalam kehidupan, entah sebagai anak, istri, ibu, dan anggota dalam suatu masyarakat, dan mampu memberikan kontribusi positif dalam kemajuan ummat.
Dan menjadi bidadari syurga di akhirat kelak. Yakinlah.. kita akan menjadi lebih produktif dan optimal dalam berusaha ketika hati kita memiliki keinginan dan cita-cita untuk memberi orang lain…
Oleh : Arafah Siska. Lc 

03.38 | Posted in , | Read More »

Saatnya Peduli

Ruhama : Hari itu terdengar kabar bahwa Bilal bin Rabah, budak miskin yang hidup sebatang kara mengalami siksa tak terperi dari majikannya yang kafir. Di bawah sinar matahari yang membakar, di atas hamparan gurun sahara yang mendidih, ia ditidurkan terlentang oleh sang majikan laknat. Di atas dadanya yang kurus di timpuk batu besar, kaki dan tangannya terbelenggu rantai besi. Bukan hanya itu, sekali-kali sang majikan mencambuki tubuhnya yang tak berdaya.
Kemiskinan telah mengantarkannya menjadi budak seorang manusia kejam bernama Umayyah bin Khalaf. Seluruh iblis datang menggoda agar mengikuti saja keinginan sang majikan, mengingkari Allah dan Muhammad. Setelah itu, ia akan bebas dari perbudakan serta beroleh kekayaan yang banyak. Namun sang budak Bilal menolak dan tak bergeming sedikitpun. Diperkuat dirinya untuk tetap tegar menghadapi cobaan dengan zikir yang tak putus. “Ahad.............(Allah yang Maha Esa) Ahad..... Ahad......”, ucapnya setiap siksaan semakin memerih.
Akhirnya datanglah pedagang kaya itu. Pedagang besar yang sangat kaya di Makkah. Ia segera datang membeli sang budak dan membebaskannya dari ancaman yang sangat berbahaya. Berbahaya bukan hanya karena jiwanya yang terancam, bukan juga karena penderitaan tubuhnya yang semakin memilukan. Ia datang untuk menyelamatkan iman Bilal. Ditukarnya Bilal dengan budak Abu Bakar. Abu jahal menerima setelah dibayar dan diganti dengan budak musyrik miliknya.
Kisah di atas bisa menjadi pelajaran bagi bangsa ini, terutama kaum muslimin dalam menghadapi krisis yang semakin mencekik leher. Bilal bin Rabah  ibarat masyarakat miskin yang berjuang melawan penderitaan hidup. Ia tak ubanhnya masyarakat miskin yang mempertahankan hidupnya dengan pilu yang menusuk-nusuk. Mereka hidup ibarat orang terbelenggu. Tak mampu berbuat apa-apa. Ditambah lagi semakin tidak bersahabatnya sang penguasa dengan melakukan tindakan yang tak jarang membuat mereka semakin menderita.
Bila mereka mati dalam penderitaan itu, mungkin tidak akan terlalu menyedihkan. Bagi seorang muslim kematian adalah hal yang dinanti, dengan kematian itu ia akan bertemu Allah, dengan kematian itu pula berakhir seluruh derita dunianya berganti bahagia menanti nikmat surga di alam kubur.
Hal yang sangat disedihkan adalah jika kematian atau bahkan kehidupan itu mengantarkan ia mengingkari Tuhan dan mendurhakai Allah. Yang disedihkan jika sang miskin harus bunuh diri karena tak kuasa menahan derita. Atau sang miskin menggadai iman demi memenuhi tuntutan hidup yang sulit. Atau melakukan tindakan kriminal demi sesuap nasi. Atau juga menjual harga diri demi mengisi perut anak-anaknya. Tindakan ini adalah durhaka dan dosa besar. Harus dijauhi.
Disinilah letak permasalahannya, karena selalunya kemiskinan dan penderitaan erat dengan pengingkaran terhadap Allah. Dekat dengan dosa dan tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Sebuah ungkapan Arab mengatakan “Idza qala al faqru inni dzahibun ila baladin, qala lahu al kufru; hudzni maak” (jika kefakiran–kemiskinan- berkata, saya akan berangkat menyengsarakan sebuah negeri, berkatalah kekafiran, bawalah saya bersamamu). Di sebuah hadisnya Rasulullah mengatakan “Kada al faqru an yakuna kufran” (hampir-hampir kefakiran itu mengantarkan ke kekafiran).
Oleh karena itu di sini, di saat yang menakutkan ini, kita butuh orang-orang seperti Abu Bakar, pedagang kaya yang disebutkan di atas sebagai pemerdeka Bilal dari kungkungan perbudakan. Mengangkatnya dari kemiskinan yang melilit hidup.  Membebaskan dari penderitaan yang tak berperi. Kita menginginkan orang yang memiliki tanggung jawab tinggi terhadap masyarakatnya. Masalah kemiskinan bukan hanya tanggung jawab negara.
Tidak semata tanggung jawab pemerintah. Kemiskinan adalah rmasalah yang tiap anggota masyarakat dalam sebuah komunitas mesti bersama-sama memberi solusi menanggulanginya, wajib.
Kemiskinan adalah musuh, musuh semua manusia. Sejak empat belas abad yang lalu, Islam telah mengumumkan genderang perang untuk mengentaskan kemisikinan. Bukan hanya mengumumkan perang, Islam juga telah memberikan solusi dan senjata ampuh untuk memberantas petaka ini.
Salah satu  dari sekian banyak solusi yang diberikan adalah memberikan dorongan tinggi pada mereka yang berada dalam kondisi berkecukupan agar tidak hidup hanya dengan dirinya sendiri. Mereka mesti memperhatikan kondisi lingkungan sekelilingnya. Hal inilah yang sangat di fahami Abu Bakar. Dengan pemahaman dan dorongan yang diberikan itu, setiap ia mengetahui seorang muslim mengalami nasib tidak bersahabat, segera ia memberi pertolongan walau harus mengorbankan dirinya sendiri. 
Pada waktu lain, saat Rasulullah menganjurkan para sahabatnya berinfak dan bersedekah, tampillah Abu Bakar dengan membawa seluruh hartanya. Saat ditanya apa yang engkau sisakan untuk keluargamu, Abu bakar menjawab, “Aku sisakan pada mereka Allah dan Rasulnya”. Dan, sejarah tidak pernah mencatat Abu Bakar bangkrut dengan kedermawanan itu. Lebih hebat lagi, Rasulullah menjamin surga untuknya. Lain waktu Rasulullah berkata, “Andaikan iman seluruh penduduk dunia ditimbang dengan imannya, iman Abu Bakar masih lebih berat”.
Kini, di zaman ini, yang banyak orang hidup individualis tanpa mau peduli dengan lingkungannya tentu sangat sulit mencari orang seperti beliau.
Namun, walau demikian bukan berarti tidak ada orang yang bisa sepertinya. Banyak, semua bisa seperti beliau. Selama ia mau berusaha dan melatih diri untuk kesana. Layaknya keahlian, kemampuan untuk peka terhadap kondisi lingkungan dan hidup saudara yang lain adalah sebuah hal yang mesti dipelajari. Mesti dibiasakan. Seperti kita mencari ilmu sedemikian kita mesti berlatih membina diri untuk peduli.


03.33 | Posted in , , | Read More »

Solidaritas untuk Gaza bersama LKSM RUHAMA, DPP PPMI,WIHDAH, SINAI, Rumah Budaya AKAR, 17 kekeluargaan dan 6 senat mahasiswa

Solidaritas untuk Gaza bersama LKSM RUHAMA, DPP PPMI,WIHDAH, SINAI, Rumah Budaya AKAR, 17 kekeluargaan dan 6 senat mahasiswa

22.01 | Posted in | Read More »

LKSM RUHAMA tergerak untuk membentengi mahasiswa dengan pelatihan Kungfu Prak(3)

Marakanya tindakan kriminal dan kekerasan membuat LKSM RUHAMA tergerak untuk membentengi mahasiswa dengan pelatihan Kungfu Prak(3)

21.49 | Posted in | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added